Kalkulator Kuno Peninggalan Abad Ke-19

Minggu, 27 Maret 2011

Sekarang kita tinggal mengeluarkan sebuah kalkulator kecil seharga Rp 15.000,- untuk menghitung angka dalam skala besar, atau menggunakan komputer untuk melakukan perhitungan yang lebih rumit. Tapi tidak demikian pada sekitar abad ke-19. Manusia memerlukan waktu dan perhitungan yang panjang saat berhadapan dengan angka-angka yang besar.

Dan akhirnya manusia menemukan alat-alat yang kita sebut mesin hitung atau kalkulator. Kalkulator pada saat itu tidak sehebat kalkulator sekarang. Bentuknya besar, berat, dan masih memiliki kemampuan terbatas. Pengoperasiannya pun belum menggunakan listrik. Mesin-mesin inilah yang menjadi nenek moyang dari keberadaan teknologi canggih jaman sekarang ini.

Sempoa dan Logaritma
Sempoa sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan kini masih digunakan. Sebetulnya sempoa bukanlah alat hitung sebenarnya, melainkan alat bantu untuk menyimpan memori perhitungan. Kemudian muncul sistem logaritma yang ditemukan oleh John Napier pada abad ke-17. Dengan logaritma, perkalian bisa diubah menjadi penambahan dan pembagian bisa diubah menjadi pengurangan. Sejak saat itu mesin-mesin hitung mulai dikembangkan oleh Wilhelm Schickhard, Blaise Pascal, dan Gottfried Wilhelm von Leibniz. Walaupun tidak begitu sukses, mesin-mesin ini menjadi dasar bagi kalkulator selanjutnya pada abad ke-19.

Arithmometer
Mesin hitung pertama adalah Arithmometer, ditemukan oleh Charles Xavier de Colmar pada tahun 1820. Kemudian konsep mesin ini dikembangkan oleh Baldwin dan Odhner.

arithmometer 
Comptometer
Comptometer adalah kelanjutan dari Arithmometer. Diperkenalkan pada tahun 1885, merupakan kalkulator mekanik pertama yang dilengkapi dengan tombol untuk memasukkan angka. Dari bentuk, ukuran, bentuk, dan beratnya menyerupai mesin ketik. Mesin ini dapat menghitung angka hingga delapan digit.

comptometer

Troncet dan Addiators
Arithmographe, ditemukan oleh Frenchman Troncet pada tahun 1889, merupakan mesin yang menerapkan sistem logaritma. Bentuknya kecil dengan beragam desain dan merk. Mesin kecil ini kemudian dikenal dengan nama Troncet, dan terjual jutaan unit pada tahun 1970. Troncet berkembang lagi dan dikenal dengan nama Addiator, yang merupakan nama merk salah satu produsen mesin ini yang berada di Jerman.

addiator

Curta
Curta didesain oleh seorang tahanan di kamp konsentrasi. Diperkenalkan pada tahun 1947 dan diproduksi tahun 1970. Prinsip kerjanya hampir sama dengan Comptometer tapi dengan desain yang lebih kecil dan ringkas. Curta menjadi kalkulator saku mekanik dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi (mengenal perhitungan 15 digit), sebelum lahirnya kalkulator saku elektronik.

curta

Komputer mekanik (The Difference Engine )
Mesin-mesin kecil di atas tidak cocok untuk perhitungan yang rumit. Orang-orang masih menggunakan tabel matematika untuk melakukan perhitungan yang kompleks. Kemudian seorang penemu dari Inggris, Charles Babbage, mendesain sebuah mesin untuk mengerjakan proses yang rumit tadi. Dengan tingkat ketelitian sampai dengan 33 digit, mesin Babbage (Difference Engine) mulai diperkenalkan tahun 1822 dan yang kedua pada tahun 1849. Sayangnya mesin Babbage tidak pernah terwujud, hanya konsepnya. Konsep itu kemudian dikembangkan oleh pasangan bapak dan anak Scheutz dari Swedia dengan model yang lebih kecil pada tahun 1853. Martin Wilberg juga mengembangkan hal yang sama pada tahun 1875. Berdasarkan konsep dari Babbage, Wilberg membuat mesin hitung dengan berat 5 ton. Mesin ini merupakan mesin hitung mekanik yang paling besar yang pernah dibuat. Konsep mesin perhitungan yang kompleks dari Charles Babbage inilah yang akhirnya kita kenal dengan nama komputer seperti sekarang.

babbage

sumber : Low-tech Magazine, Vintage Calculators, MechaniCalculator

0 comment(s):

Poskan Komentar

 
 
 

Follow by Email

Followers